Membuat kalamai dengan cara tradisional memberikan pengalaman yang berbeda. Ini bukan hanya mengenai cita rasa, tetapi juga tentang atmosfer-hangat, meriah, dan arti kebersamaan yang dibangun saat pengadukan kalamai bersama keluarga karna pekerjaan yang lumayan berat.
Cara membuat kalamai dengan tungku kayu pertama-tama, beras ketan hitam direndam selamam 30 menit dan kemudian di tiriskan untuk dapat ditumbuk hingga halus. Selanjutnya, siapkan santan yang terbuat dari kelapa parut dan di panaskan hingga santan mendidih beri sedikit garam agar menciptakan tambahan rasa gurih, lalu tambahkan gula aren ataupun gula pasir. Semua bahan ini dimasukkan ke dalam wajan besar dari besi dan dimasak menggunakan tungku kayu bakar.
Bagian ini sangat menyenangkan karena adonan harus terus-menerus diaduk agar tidak hangus, biasanya dilakukan oleh dua atau tiga orang secara bergantian. Nyala api dari kayu memberikan aroma khas yang tidak dapat dihasilkan oleh kompor gas. Saat mengaduk, terdengar tawa, cerita, dan kadang-kadang nyanyian kecil yang menambah keceriaan suasana.
Biasanya pembuatan kalamai secara bersama-sama ini dilakukaan di saat ada acara baralek gadang di rumah gadang, yang dilakukan bersama-sama keluarga dan tetangga yang ikut serta membantu acara baralek tersebut.
Setelah sekitar dua hingga tiga jam, adonan akan menjadi kental, lengket, dan mengilap. Ini menandakan bahwa kalamai sudah siap diangkat! Tuangkan adonan ke dalam loyang yang dilapisi daun pisang, ratakan, lalu biarkan dingin. Setelah mengeras, potong-potong dan sajikan. Potongan kalamai biasanya berbentuk jajar genjang atau di Minangkabau disebut saik kalamai.
Kalamai yang dimasak dengan cara ini memiliki rasa yang lebih kaya-manis, gurih, dan penuh kenangan. Ini bukan hanya sekadar camilan, tetapi juga merupakan warisan rasa dari dapur nenek.


