Program ini bukan sekadar romantisme masa lalu, tapi strategi masa depan. Surau dijadikan pusat kegiatan pemberdayaan masyarakat dari pendidikan karakter, pelatihan digital, kewirausahaan, hingga pelestarian budaya lokal. Surau tak lagi hanya tempat ibadah, tapi juga ruang belajar, berkarya, dan bermimpi.
Dengan menggandeng berbagai pihak seperti BLK Agam, pesantren, komunitas lokal, hingga anak-anak muda yang melek teknologi, “Bangkik dari Surau” menjadi awal mula perubahan dari kampung-kampung kecil menuju dunia yang lebih luas. Surau kini tak lagi sunyi, tapi hidup dan tumbuh bersama semangat generasi baru Agam yang ingin maju tanpa kehilangan jati diri.
Salah satu program bangkik dari surau ini dilaksanakan oleh BLK Agam yang di adakan di Surau Ka'bah Inyiak Tuah Islamic Center Panampuang dengan tema Digital Marketing dalam rangka Strategi Membangun IKM Cakap Ekonomi Digital, Responsif, Adaptasi dan sikap Saing "IKM CERDAS"
Siapa sangka, di tengah sejuknya udara kampung dan tenangnya suasana Surau Kakbah, kami justru memulai langkah baru menuju dunia digital. Bukan sekadar belajar teknologi, tapi kami diajak mengenal diri, memahami potensi, dan melatih kepercayaan diri lewat pelatihan digital marketing dari BLK Agam.
Surau Kakbah yang biasanya digunakan untuk pengajian dan kegiatan keagamaan, berubah menjadi ruang belajar yang penuh semangat. Ada canda, tawa, dan semangat untuk "bangkik" dari keterbatasan, untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah lewat teknologi.
Pelatihan ini dipandu langsung oleh Bapak Delvi Simanto, M.Pd, CMT, CDM, CBA, ELP, seorang instruktur digital marketing yang sabar, menyenangkan, dan paham betul bagaimana membuat peserta belajar tanpa merasa tertekan. Beliau tidak hanya mengajar soal strategi pemasaran digital, tapi juga menyemangati kami untuk berani tampil, mencoba, dan tidak takut salah.
Hari pertama pelatihan dimulai bukan dengan laptop atau internet, tapi dengan soft skill training dan tes psikologi. Di sinilah kami menyadari, bahwa sebelum mahir membuat konten atau promosi di media sosial, kami harus lebih dulu kuat secara mental dan pribadi. Tes-tes ini bukan untuk menilai siapa yang paling pintar, tapi untuk membantu kami mengenal kekuatan dan kelemahan diri sendiri.
Bukan hanya belajar satu arah namun kami juga diberi kesempatan untuk menyampaikan dan menceritakan tentang pengalaman kami dalam menjalankan usaha di mana kami saling bertukar cerita dan pengalaman dalam menjalankan usaha.
Tak hanya teori, kami juga langsung praktik menjalankan usaha sederhana. Walaupun hanya berupa kegiatan jual beli puzzle, tapi prosesnya sangat berharga. Kami belajar mengambil keputusan bersama, membagi peran seperti ketua, keamanan, keuangan, hingga penulis arsip. Dari sini kami belajar pentingnya kerjasama tim, komunikasi, dan kontrol ego saat bekerja bersama.
Kami juga diajarkan cara menganalisis usaha dengan metode SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat), membuat WhatsApp Business, pembuatan logo dengan bantuan AI, lalu bagaimana mengembangkan usaha melalui Google Business Profile, Blogger, Linktree, dan Lynk. Kami mulai memahami bahwa menjadi pelaku usaha digital tidak sesulit yang dibayangkan, asal tahu langkah-langkah dasarnya.
Pada suatu hari pelatihan, kami ditantang untuk membuat konten bebas di sekitar Surau Ka'bah. Kegiatan ini kami lakukan bersama-sama, dari proses pengambilan gambar, editing foto dan video, hingga pembuatan artikel di blog pribadi tentang proses pembuatan konten tersebut.
Di salah satu sesi, kami juga diajarkan teknik fotografi produk yang baik. Ternyata, mengambil gambar produk tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak hal yang harus diperhatikan, seperti pencahayaan, sudut pengambilan gambar, hingga latar belakang. Untuk mendukung proses belajar ini, kami membuat softbox sederhana secara berkelompok. Meski menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat, hasilnya cukup membantu kami menghasilkan foto produk yang lebih menarik dan profesional.
Setelah belajar fotografi, kami masuk ke sesi desain menggunakan aplikasi Canva. Di sini kami diajarkan cara membuat katalog produk digital, mengedit foto-foto produk, dan menyusunnya agar terlihat menarik di mata pelanggan. Banyak dari kami yang baru pertama kali menggunakan Canva, tapi dengan panduan dari mentor dan kerja sama tim, kami berhasil membuat katalog, feed IG, Flayer dan story IG kami sendiri.
Tidak berhenti sampai di situ, pelatihan juga mengajarkan kami cara mengedit video menggunakan aplikasi CapCut. Kami belajar membuat video promosi dari awal, mulai dari opening, menggabungkan beberapa potongan video, menambahkan musik, teks, efek, hingga penutupan yang menarik. Ini sangat berguna untuk keperluan promosi di media sosial.
Selanjutnya, kami masuk ke dunia marketplace. Kami diajarkan cara membuka toko online di Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop melalui Seller Center masing-masing. Kami praktik langsung mulai dari membuat akun toko, mengunggah foto produk, menuliskan deskripsi, hingga memahami cara memproses dan menyelesaikan pesanan pelanggan.
Yang paling menarik bagi sebagian peserta adalah sesi Live TikTok. Kami belajar bagaimana mempersiapkan live jualan mulai dari peralatan yang dibutuhkan, cara berbicara di depan kamera, hingga strategi menarik minat penonton agar mereka tertarik membeli produk yang ditawarkan secara langsung.
Tak kalah penting, kami juga dikenalkan dengan iklan berbayar, baik melalui Google Ads maupun Meta Ads (Facebook & Instagram Ads). Kami belajar bagaimana mengatur iklan, memilih target pasar yang sesuai, serta menyusun iklan yang efektif agar bisa menjangkau lebih banyak calon pembeli.
Seluruh rangkaian pelatihan ini benar-benar membuka wawasan kami, bahwa dunia digital bisa menjadi peluang besar jika dimanfaatkan dengan tepat. Belajar di surau mungkin terdengar sederhana, tapi ilmu yang kami dapatkan sangat bernilai dan aplikatif. Terima kasih BLK Agam atas kesempatan yang luar biasa ini!
Dari surau kecil inilah kami belajar bermimpi besar. Kami bangkit, belajar, dan bergerak bersamamenuju masa depan digital yang tetap berpijak pada nilai dan budaya lokal. Ini bukan sekadar pelatihan. Ini adalah awal perubahan. Dari surau kecil, kami bermimpi besar.








.jpeg)

.jpeg)

